oleh

Amman Dinilai Miliki Komitmen Tinggi Dalam Implementasi Aspek HSSE Dalam Operasionalnya

Jakarta – Presiden Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), Rachmat Makkasau mendapatkan penghargaan “Best CEO” di kategori Mineral Mining Company pada ajang penganugerahaan Energy & Mining Editor Society (E2S) 2022 pada hari Selasa (13/12) di The Dharmawangsa, Jakarta. Penghargaan ini diberikan oleh E2S yang merupakan komunitas lebih dari 30 editor media yang berfokus pada industri energi dan pertambangan di Indonesia.

Dalam sambutannya, Chairman E2S, Dudi Rahman mengatakan bahwa penghargaan ini diberikan kepada perusahaan dan para pekerjanya yang memiliki komitmen tinggi dalam mengimplementasikan aspek HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) dalam kegiatan operasionalnya.

“Dewan juri dan tim E2S telah melakukan seleksi selama dua bulan untuk menentukan perusahaan yang layak mendapatkan penghargaan ini. Kami berharap pemberian penghargaan ini dapat memicu peningkatan kinerja dengan mengedepankan aspek HSSE serta memberikan multiplier effect, termasuk bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasional,” kata Dudi.

Selain “Best CEO”, E2S juga memberikan penghargaan kepada Kartika Octaviana sebagai Best PR Manager di kategori Mineral Mining Company. Capaian ini merupakan kali kedua, setelah tahun lalu penghargaan “Best CEO” dan “Best PR Manager” juga diberikan kepada AMMAN dalam acara penganugerahan yang diselenggarakan secara daring. Selain pemberian penghargaan, E2S juga menggelar diskusi outlook ESDM bertema “CEO’s New Vision: Business Reforms to Shape the Energy Transition”. Presiden Direktur AMMAN menjadi salah satu pembicara dalam diskusi tersebut.Dalam paparannya, Rachmat menjelaskan proses transisi energi yang telah dilakukan oleh AMMAN.

“Kami telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung agenda pemerintah dalam mencapai Net Zero Emission di tahun 2060. Salah satunya adalah dengan mengoperasikan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Solar PV) sejak Mei 2022 dengan kapasitas 28.6-Megawatt peak. Pembangkit listrik ini merupakan fasilitas ground-mounted Solar PV terbesar di Indonesia hingga saat ini, yang digunakan untuk operasional pertambangan, serta diharapkan berkontribusi dalam pengurangan emisi CO2 hingga 40.000 ton/tahun. Tak hanya itu, AMMAN juga telah memulai pembangunan pembangkit listrik tenaga gas, sumber energi yang lebih bersih dengan emisi karbon yang lebih rendah, dengan kapasitas 450 MW,” jelas Rachmat.

BACA JUGA :   Study Banding Soal PAD, Komisi II DPRD KSB Kunjungi BKD Kota Mataram

Rachmat menambahkan bahwa transisi energi ini dilakukan untuk memastikan bahwa operasional hulu tembaga, salah satu komoditas utama dalam green economy, yang dilakukan AMMAN juga dijalankan secara berkelanjutan. Terlebih karena permintaan akan tembaga terus meningkat seiring dengan transisi energi di dunia.

“Peningkatan kebutuhan akan komoditas katoda tembaga dunia akan meningkat sekitar 4% per tahun hingga tahun 2040. Namun peningkatan ini tidak diimbangi dengan perkembangan produksi dunia, sehingga akan ada gap cukup signifikan. Kondisi sebaliknya justru terjadi di Indonesia, di mana diperkirakan akan terjadi surplus produksi yang dapat menjadi peluang bagi Indonesia. Karenanya, hal ini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mulai memikirkan pembangunan industri turunan (downstream industry),” tutup Rachmat.(K3)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *